Senin, 16 Desember 2019


Benih Kelapa Sawit Topaz, Cara Perusahaan Sukanto Tanoto Tingkatkan Produktivitas
Sumber: obrolanbisnis.com

Dalam satu tahun, Asian Agri dapat menghasilkan minyak sawit mentah sebanyak 1,2 juta ton metrik. Dengan jumlah produksi sebesar itu, unit bisnis Royal Golden Eagle yang didirikan oleh Sukanto Tanoto ini pun secara otomatis menjadi salah satu produsen minyak sawit terbesar di Asia.

Besarnya kapasitas produksi Asian Agri ini tidak lepas dari lahan 100.000 hektar perkebunan sawit yang dikelola oleh perusahaan ditambah dengan lahan seluas 60.000 hektar yang dikelola dalam skema plasma. Selain itu, Asian Agri juga bekerja sama dengan petani swadaya dengan total lahan seluas 41.000 hektar.

Meski memiliki target produksi yang sangat besar, Asian Agri telah berhenti memperluas kebun intinya sejak tahun 2003. Unit bisnis Royal Golden Eagle tersebut akhirnya mengambil pendekatan lain dalam meningkatkan produktivitas perkebunannya. Selain dengan memanfaatkan teknologi, unit bisnis Sukanto Tanoto tersebut juga menggunakan pendekatan intensifikasi dengan memanfaatkan benih kelapa sawit Topaz yang dikembangkannya.

Topaz, Benih Sawit Unggulan Hasil Pengembangan Asian Agri


Produktivitas tanaman kelapa sawit sangat ditentukan oleh kualitas benih yang digunakan. Dengan benih unggulan, lahan marjinal yang sulit ditanami juga bisa menjadi lebih produktif. Inilah yang berhasil dicapai oleh Asian Agri dengan benih sawit unggulan Topaz.

Benih Topaz merupakan benih tanaman kelapa sawit yang dikembangkan oleh Asian Agri. Benih ini memiliki dua keunggulan sekaligus. Selain mampu memberikan hasil yang tinggi, benih ini juga memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat baik. Karena sifatnya itulah, benih yang dikembangkan oleh unit bisnis Sukanto Tanoto tersebut sempat menarik perhatian Presiden Joko Widodo saat mengunjungi stan Asian Agri di Indonesia Trade Expo 2017 yang lalu.

Ada 4 jenis benih Topaz yang diproduksi oleh Asian Agri. Keempat benih tersebut adalah Topaz 1, Topaz 2, Topaz 3 dan Topaz 4. Perbedaan di antara keempat jenis benih Topaz tersebut terletak pada tanaman laki-laki yang digunakan dalam pembuahan atau pisifera.

Dari keempat jenis benih tersebut, Topaz 1 hingga Topaz 3 merupakan jenis yang paling populer. Namun jika berbicara tentang hasil, Topaz 1 memiliki potensi hasil yang lebih tinggi dibandingkan ketiga jenis benih Topaz lainnya. Sedangkan untuk ketahanan terhadap ganoderma, Topaz 4 relatif lebih unggul.

Tersedia Secara Bebas untuk Perusahaan Sawit dan Petani


Benih Topaz yang dikembangkan oleh Asian Agri tidak hanya digunakan untuk keperluan perusahaan. Unit bisnis Royal Golden Eagle tersebut juga menyediakannya untuk perusahaan lain dan petani sawit.

Dari total produksi benih Topaz, hanya 5% yang digunakan sendiri. Sedangkan untuk sisanya, semua tersedia untuk perusahaan lain dan petani. Untuk petani sendiri, sedikitnya mereka membutuhkan 1-1,5% dari total benih yang dihasilkan oleh perusahaan Sukanto Tanoto tersebut.

Asian Agri Terapkan Kebijakan Anti Deforestasi untuk Industri Sawit Berkelanjutan


Peningkatan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan lahan perkebunan sawit merupakan salah satu upaya Asian Agri dalam mendukung terwujudnya industri sawit berkelanjutan. Selain melakukan pendekatan intensifikasi, unit bisnis Royal Golden Eagle tersebut juga menerapkan kebijakan anti deforestasi.

Kebijakan ini telah dilakukan Asian Agri sejak tahun 2003. Sejak saat itu, perusahaan Sukanto Tanoto tersebut sudah tidak memperluas kebun intinya lagi. Sebagai gantinya, Asian Agri aktif menjalin kerja sama dengan mitra petani sawit swadaya.

Asian Agri juga aktif mendorong mitra petani swadaya untuk menerapkan praktek pertanian yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Program sosialisasi dan pelatihan kerap dilaksanakan. Tidak hanya itu saja, perusahaan Sukanto Tanoto tersebut juga siap membantu peralatan untuk mitra petani yang kesulitan dalam menerapkan praktek pertanian ramah lingkungan.